ENGLISH     BAHASA INDONESIA
 
 
 
 
 

Peluang Investasi

 

PROFIL DAERAH JAWA TIMUR

 

KOMODITI UNGGULAN DAERAH

 

KABUPATEN

 

LINK TERKAIT

 

KONTAK DI DAERAH

 
 
 
LINK TERKAIT

     

 
KONTAK

      Direktorat Pengembangan Potensi Daerah BKPM
      Jl. Gatot Subroto 44
      Jakarta Selatan
      DKI Jakarta
      Indonesia, 12190
      Tel: +62 21 5255284


 
 
IN COLLABORATION WITH PROVINCES OF INDONESIA :
 

Thu, 2 Oct 2014

Profil Daerah Jawa Timur
 

Logo Daerah Jawa Timur Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi Di Pulau Jawa yang terletak 111,0o - 114,4o Bujur Timur dan 7,12o - 8,48o Lintang Selatan yang berbatasan dengan :

- Sebelah Barat berbatasan dengan Jawa Tengah,
- Sebelah Timur dengan Pulau Bali,
- Sebelah Utara dengan Pulau Kalimantan / Provinsi Kalimantan Selatan,
- Sebelah Selatan dengan samudra indonesia.

Secara umum wilayah Jawa Timur ... Selengkapnya »



Peta Potensi
 

Klik bagian Legenda di bawah dan pilih komoditi yang akan ditampilkan.

Legenda


  


Feed News    Berita Terbaru
 

Badan Tenaga Nuklir Nasional Pamerkan Beras Nuklir 

Varietas padi unggulan hasil mutasi radiasi BATAN. foto:dokliputan6

Pro Kontra Teknologi Irradiasi pada Bahan Pangan Terus Bergulir

Beras nuklir dipamerkan. Bukan produk dari Kementerian Pertanian, tetapi dari BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional). Akibat itu berbagai pihak tersulut untuk bertanya. Amankah bagi kesehatan manusia?

Seperti diberitakan laman Agrofarm pro kontra penggunaan teknologi irradiasi pada bahan pangan terus bergulir. Sejumlah penelitian menyebutkan sangat berdampak terhadap kesehatan  manusia.  Dari  kematian dini, kanker, disfungsi reproduksi, ketidaknormalan kromosom, kerusakan liver, serta kurang gizi dan vitamin. Pada anak-anak di India yang mengonsumsi gandum irradiasi ditemukan kelainan kromosom.

Walaupun pengusaha produk makanan di tanah air belum memaksimalkan teknologi iradiasi makanan, bukan berarti pasar Indonesia bebas dari produk makanan irradiasi. Buah dan sayuran impor yang ada di pasar dan supermarket sebagian besar telah melalui proses irradiasi untuk memperpanjang masa simpan.

Syarat batas aman dosis irradiasi makanan telah diatur secara internasional. Misalnya, dosis untuk buah dan sayur di bawah 2 kGy, dosis untuk daging 3-7 kGy, sedang dosis untuk herbal kering dan bumbu di atas 10 kGy (masih aman karena dalam penggunaannya untuk masak hanya digunakan sedikit). Di setiap negara, termasuk Indonesia, telah secara khusus mengatur ketentuan mengenai irradiasi makanan.

Menurut aturan internasional, produk makanan yang diirradiasi harus menyertakan logo radura pada kemasannya sebagai penanda. Sehingga konsumen tahu apa yang dikonsumsinya. Di negara-negara maju konsumen telah sangat peduli terhadap produk yang dikonsumsi. Terlepas dari pro kontra produk makanan irradiasi, bagaimanapun juga irradiasi bukan hal ilegal.

Namun, sudah seharusnya juga masyarakat Indonesia yang semakin cerdas dewasa ini berhak tahu apakah produk yang dibeli melalui proses langsung irradiasi atau tidak. Setelah mengetahui kekurangan dan kelebihan teknologi irradiasi, biarlah konsumen sendiri secara sadar memutuskan apa yang dikonsumsinya.

Pada tahun 2009 diketahui 90 ekor kucing jatuh sakit di Australia, 40 ekor harus di-uethanasia karena mengalami kelumpuhan parah. Seorang dokter hewan di Sidney bernama Georgina Child, akhirnya menyimpulkan, peristiwa itu disebabkan oleh makanan kucing asal Kanada bermerek Orijen yang diirradiasi nuklir.

Sesuai regulasi karantina Australia, makanan hewan impor harus diirradiasi dengan level 50 Gy terlebih dahulu begitu tiba di Negara Kanguru tersebut. Sejak kejadian fatal itu, pemerintah Australia melarang irradiasi makanan kucing.

Teknologi irradiasi makanan menggunakan cobalt atau cesium pada dasarnya bertujuan untuk mengawetkan makanan dengan cara mencegah bertumbuhnya bakteri patogen dan virus. Ini untuk memperlambat pembusukan, dan masa simpan makanan menjadi lebih panjang.

Teknologi ini pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1896, baru pada tahun 1920-an teknologi ini digunakan. Amerika Serikat juga melirik teknologi irradiasi makanan tersebut dan tertarik untuk menggunakannya terutama untuk keperluan irradiasi ransum militer pada tahun 1950-1960. Sejak lebih dari 50 tahun yang lalu Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat telah menyetujui irradiasi sayur, buah dan daging.

Menurut data yang dilansir dari sebuah lembaga pengetahuan dan teknologi makanan IFST (Institute of Food Science & Technology) yang berbasis di Inggris, diketahui di dunia ada 380 ribu ton makanan yang diirradiasi (2009). Di AS sekitar 120 ribu ton makanan diirradiasi (2009), China sebagai negara terbesar di Asia Pacifik yang memanfaatkan teknologi ini mengirradiasi sekitar 200 ribu ton makanan (2009), dan  Uni Eropa (UE) sekitar 8.100 ton (2011).

Didukung oleh badan kesehatan dunia WHO, FAO dan Codex Alimentarius, hingga saat ini lebih dari 50 negara menerapkan teknologi irradiasi pada lebih dari 60 jenis produk makanan. Termasuk di dalamnya adalah buah, sayur, daging, dan bumbu dapur.

Organic Consumer Association (OCA), yaitu asosiasi konsumen makanan organic, menentang  irradiasi makanan. Menurutnya, irradiasi sayur dan buah hanya akan menguntungkan pihak pengemas dan penjual saja, bukan menguntungkan petani atau konsumen. Karena dengan irradiasi OCA percaya, bahwa konsumen menerima produk tidak bermutu. Tampak segar walaupun telah kehilangan vitamin dan enzim.

Kendati FDA telah menyatakan, bahwa irradiasi makanan aman 100%, OCA menemukan, dalam banyak riset ditemukan beragam dampak makanan irradiasi pada hewan. Termasuk kematian dini, kanker, disfungsi reproduksi, kerusakan liver,  ketidaknormalan kromosom, serta kurang gizi dan vitamin. Pada anak-anak di India yang mengonsumsi gandum irradiasi ditemukan kelainan kromosom.

Organisasi kesehatan berbasis pengetahuan Natural News menyatakan, bahwa irradiasi makanan akan membunuh bakteri baik dan bakteri jahat. Bahkan ada pula peluang bakteri yang bertahan dalam proses irradiasi akan bermutasi dan tahan radiasi. Akibatnya irradiasi tidak lagi efektif, selain dapat pula terbentuk bakteri yang tahan antibiotik.

Dikutip dari halaman Natural News, peneliti dari Brown University Dr Geraldine Dettman menyatakan, bahwa radiasi bersifat karsinogen, mutagen, dan teratogen. “Pada dosis 100.000 rads (1 kGy) pada buah dan sayuran, sel buah dan sayuran akan terbunuh, dan kebanyakan telur hama akan mati. Tapi jamur, bakteri dan virus yang tumbuh pada buah dan sayur tidak akan terbunuh. Mereka akan bermutasi, dan bahkan menjadi lebih berbahaya,” jelas Dettman.

Tidak Semua Jenis Makanan

Proses irradiasi makanan memang dapat membuat makanan menjadi lebih higienis dan bertahan lama. Tapi proses tersebut juga mengurangi nilai gizi makanan. Natural News menyatakan paparan, sinar irradiasi dapat merusak 5-80% vitamin A, B kompleks , C, E, dan K serta  nutrisi yang ditemukan di beragam makanan. Sebagai contoh, telur yang diirradiasi kehilangan 80% vitamin A dan jus jeruk kehilangan 48 persen beta karotin.

Kanada melalui CFIA (Canadian Food Inspection Agency) mengijinkan irradiasi hanya pada produk makanan bawang, kentang, tepung, bumbu dapur dan bumbu kering. Sedangkan FDA US mengijinkan irradiasi hampir untuk semua produk makanan, termasuk daging, unggas, kerang, buah dan sayur. Di China juga hampir semua produk makanan boleh diirradiasi. Beberapa negara di Asia Tenggara juga telah banyak menggunakan teknologi irradiasi ini.  Di Indonesia, teknologi irradiasi belum banyak dimanfaatkan perusahaan.

Lain halnya dengan di UE. Kebanyakan negara di Eropa hanya membatasi irradiasi makanan pada produk herbal dan bumbu dapur. Beberapa negara seperti Belgia, Perancis, Belanda, dan Inggris memperbolehkan irradiasi pada jenis makanan lain.

Tetapi Jerman, Denmark, dan Luxemburg, ketiga negara tersebut tetap membatasi pada bahan makanan sekunder seperti herbal kering dan bumbu dapur. Aturan mengenai irradiasi di Eropa terbatas hanya bila dibutuhkan, tidak berbahaya, menguntungkan konsumen dan tidak digunakan sebagai pengganti GMP (Good Manufacturing Product). (*/idi)

Kiat Wong Cilik Menyongsong Isu Ekonomi Bernama MEA 

Proses sederhana pembuatan nata de coco dari perajin yang diserap pabrikan. foto:widi

Berselancar di Internet, Jadi Produsen Nata De Coco

Awalnya, Sriyono, 34 tahun, hanya petani tadah hujan di pelosok Ponorogo. Namun setelah bersentuhan dengan dunia internet, hidupnya pun berubah.  Sriyono tak lagi mengadalkan lahan kritis yang dimilikinya tetapi menjadi produsen nata de coco. Skala produksinya memang masih kecil, namun dia yang terbesar di Ponorogo.

Volume produksi usaha milik warga Dukuh Gading RT02 RW03, Desa Sraten, Kecamatan Jenangan ini mencapai 1,3 ton per minggu. Semuanya masuk pabrik dalam bentuk nata de coco tawar.

Pabrikan kemudian memprosesnya lebih lanjut untuk dilempar ke pasaran dalam bentuk siap konsumsi. Merk-nya pun bukan lagi Sriyono atau SSW yang biasa dia digunakan, melainkan sudah made in pabrikan tersebut. Pabrikan itu nun jauh di luar Ponorogo, yaitu di Solo, Jawa Tengah.

Peluang besar tersebut, hingga sejauh ini, adalah satu-satunya yang diketahui Sriyono. Diserap pabrik memang menguntungkan, namun margin yang dia dapatkan menjadi kecil. Untuk 1,3 ton setoran nata de coco ke pabrik, uang yang dihasilkan per minggu 2,2 juta rupiah.

Ini penghasilan kotor. Belum termasuk biaya produksi, gaji 2 karyawan, ongkos angkut dari Ponorogo ke Solo. Sebenarnya pengerjaan nata de coco ini dilakukan 4 orang. Termasuk dirinya dan istri. Namun gaji dia dan istri tidak masuk hitungan.

Sriyono menghitung, biaya produksi per minggu tak kurang dari 1,2 juta. Di luar itu masing menanggung biaya lain-lain. Jadi keuntungan bersih per minggu hanya dikisaran 500-700 ribu rupiah.

Kecilnya penghasilan ini membuat Sriyono mulai mencoba melirik pasar di luar setoran ke pabrik. Ia menciptakan merk SSW nata de coco dalam bentuk siap konsumsi dan ditawarkan ke pasar-pasar. Hasilnya lumayan. Bisa menopang keuntungan. Sriyono juga menyediakan diri untuk peasanan hajatan warga sekitarnya.

“Kendala saya cukup banyak. Modal di antaranya. Semua produksi juga masih kita lakukan dengan manual. Dengan cara tradisonal. Jadi, volume juga terbatas. Permintaan pabrik sebenarnya berapapun masuk, tapi kendala peralatan jadi masalah,” kata Sriyono.

Sriyono bersama tong-tong berisi tampungan air kelapa yang diambil dari pasar-pasar di Ponorogo. foto:widi

Untuk yang produksi bukan untuk setoran pabrik, kata Sriyono, sebenarnya mendapat respon bagus dipasaran. Terutama yang rasa buah leci atau coco pandan. Volumenya selalu bertambah.

Hanya sayangnya packaging menjadi masalah. Kurang menarik, sehingga tidak mampu menyedot pelangan yang signifikan. Sementara kompetitor dipasaran sudah kelas pabrikan. “Jadi, andaikan ada bantuan begitu saya membutuhkan pelatihan untuk urusan packaging ini,” imbuh Sriyono.

Usaha nata de coco yang kini geluti Sriyono bermula dari tahun 2010. Mendapatkan info dari internet, lantas dia mencobanya. Beberapakali mencoba tidak berhasil, lantas dia ikut bekerja di usaha nata de coco milik seorang teman.

Setelah merasa bisa, tahun 2011 ia membuka sendiri usahanya. Tahun 2011 itu produksi hanya sedikit, tapi sudah bisa masuk pasar lokal. Sambil jalan, Sriyono mencari pemasaran sendiri hingga berhasil menembus pabrikan di Solo dan Magetan.

Hingga sejauh ini, di Ponorogo terdapat 3 produsen nata de coco. Kompetitor nyata bagi usaha Sriyono. Namun dia tidak khawatir, sebab volume dia yang paling besar. Selain giat mencari peluang pasar, Sriyono juga sedang mencoba membuat es nata de coco dengan ramuan gula jawa. Nata de coco dicampur dengan kelapa muda dan dijual dengan rombong-rombong es yang bisa dibawa keliling. Dia memasang istrinya untuk menangani calon bisnis baru tersebut.

Menurut Sriyono, pekerjaan membuat nata de coco ini sebenarnya pekerjaan yang susah. Harus punya ketelatenan dan ribet. Harus tahan bau asam yang menyengat. Nata de coco baru bisa dipanen setelah tujuh hari proses. Agar bisa setiap hari panen, proses produksi juga harus dilakukan setiap hari.

Mari kita simak urutan produksinya. Lebih dari 100 buah jirigen dititipkan ke para pedagang kelapa di pasar-pasar. Jirigen baru diambil setelah penuh. Waktu pengambilan 7 hari sekali. Artinya air kelapa yang dibeli dari pedagang pasar itu sudah dalam keadaan basi/asam.

Air kelapa asam kemudian direbus hingga mendidih. Lalu diberi bumbu, antara lain gula dan ZA berikut cuka. Dalam keadaan mendidih diangkat ke loyang dan dibiarkan hingga esok pagi.

Loyang berupa cetakan-cetakan seperti nampan dari plastic. Baru kemudian diberi bibit bakteri yang memang hidup dalam asam yang tinggi. Setelah itu ditutup dengan kertas koran. Penutup memakai kertas koran lantaran masih memiliki pori-pori untuk membuat bakteri nata de coco hidup. Baru tujuh hari kemudian bisa dipanen. (widi kamidi / foto:widi)

Kiat Wong Cilik Menyongsong Isu Ekonomi Bernama MEA 

Proses sederhana pembuatan nata de coco dari perajin yang diserap pabrikan. foto:widi

Berselancar di Internet, Jadi Produsen Nata De Coco

Awalnya, Sriyono, 34 tahun, hanya petani tadah hujan di pelosok Ponorogo. Namun setelah bersentuhan dengan dunia internet, hidupnya pun berubah.  Sriyono tak lagi mengadalkan lahan kritis yang dimilikinya tetapi menjadi produsen nata de coco. Skala produksinya memang masih kecil, namun dia yang terbesar di Ponorogo.

Volume produksi usaha milik warga Dukuh Gading RT02 RW03, Desa Sraten, Kecamatan Jenangan ini mencapai 1,3 ton per minggu. Semuanya masuk pabrik dalam bentuk nata de coco tawar.

Pabrikan kemudian memprosesnya lebih lanjut untuk dilempar ke pasaran dalam bentuk siap konsumsi. Merk-nya pun bukan lagi Sriyono atau SSW yang biasa dia digunakan, melainkan sudah made in pabrikan tersebut. Pabrikan itu nun jauh di luar Ponorogo, yaitu di Solo, Jawa Tengah.

Peluang besar tersebut, hingga sejauh ini, adalah satu-satunya yang diketahui Sriyono. Diserap pabrik memang menguntungkan, namun margin yang dia dapatkan menjadi kecil. Untuk 1,3 ton setoran nata de coco ke pabrik, uang yang dihasilkan per minggu 2,2 juta rupiah.

Ini penghasilan kotor. Belum termasuk biaya produksi, gaji 2 karyawan, ongkos angkut dari Ponorogo ke Solo. Sebenarnya pengerjaan nata de coco ini dilakukan 4 orang. Termasuk dirinya dan istri. Namun gaji dia dan istri tidak masuk hitungan.

Sriyono menghitung, biaya produksi per minggu tak kurang dari 1,2 juta. Di luar itu masing menanggung biaya lain-lain. Jadi keuntungan bersih per minggu hanya dikisaran 500-700 ribu rupiah.

Kecilnya penghasilan ini membuat Sriyono mulai mencoba melirik pasar di luar setoran ke pabrik. Ia menciptakan merk SSW nata de coco dalam bentuk siap konsumsi dan ditawarkan ke pasar-pasar. Hasilnya lumayan. Bisa menopang keuntungan. Sriyono juga menyediakan diri untuk peasanan hajatan warga sekitarnya.

“Kendala saya cukup banyak. Modal di antaranya. Semua produksi juga masih kita lakukan dengan manual. Dengan cara tradisonal. Jadi, volume juga terbatas. Permintaan pabrik sebenarnya berapapun masuk, tapi kendala peralatan jadi masalah,” kata Sriyono.

Sriyono bersama tong-tong berisi tampungan air kelapa yang diambil dari pasar-pasar di Ponorogo. foto:widi

Untuk yang produksi bukan untuk setoran pabrik, kata Sriyono, sebenarnya mendapat respon bagus dipasaran. Terutama yang rasa buah leci atau coco pandan. Volumenya selalu bertambah.

Hanya sayangnya packaging menjadi masalah. Kurang menarik, sehingga tidak mampu menyedot pelangan yang signifikan. Sementara kompetitor dipasaran sudah kelas pabrikan. “Jadi, andaikan ada bantuan begitu saya membutuhkan pelatihan untuk urusan packaging ini,” imbuh Sriyono.

Usaha nata de coco yang kini geluti Sriyono bermula dari tahun 2010. Mendapatkan info dari internet, lantas dia mencobanya. Beberapakali mencoba tidak berhasil, lantas dia ikut bekerja di usaha nata de coco milik seorang teman.

Setelah merasa bisa, tahun 2011 ia membuka sendiri usahanya. Tahun 2011 itu produksi hanya sedikit, tapi sudah bisa masuk pasar lokal. Sambil jalan, Sriyono mencari pemasaran sendiri hingga berhasil menembus pabrikan di Solo dan Magetan.

Hingga sejauh ini, di Ponorogo terdapat 3 produsen nata de coco. Kompetitor nyata bagi usaha Sriyono. Namun dia tidak khawatir, sebab volume dia yang paling besar. Selain giat mencari peluang pasar, Sriyono juga sedang mencoba membuat es nata de coco dengan ramuan gula jawa. Nata de coco dicampur dengan kelapa muda dan dijual dengan rombong-rombong es yang bisa dibawa keliling. Dia memasang istrinya untuk menangani calon bisnis baru tersebut.

Menurut Sriyono, pekerjaan membuat nata de coco ini sebenarnya pekerjaan yang susah. Harus punya ketelatenan dan ribet. Harus tahan bau asam yang menyengat. Nata de coco baru bisa dipanen setelah tujuh hari proses. Agar bisa setiap hari panen, proses produksi juga harus dilakukan setiap hari.

Mari kita simak urutan produksinya. Lebih dari 100 buah jirigen dititipkan ke para pedagang kelapa di pasar-pasar. Jirigen baru diambil setelah penuh. Waktu pengambilan 7 hari sekali. Artinya air kelapa yang dibeli dari pedagang pasar itu sudah dalam keadaan basi/asam.

Air kelapa asam kemudian direbus hingga mendidih. Lalu diberi bumbu, antara lain gula dan ZA berikut cuka. Dalam keadaan mendidih diangkat ke loyang dan dibiarkan hingga esok pagi.

Loyang berupa cetakan-cetakan seperti nampan dari plastic. Baru kemudian diberi bibit bakteri yang memang hidup dalam asam yang tinggi. Setelah itu ditutup dengan kertas koran. Penutup memakai kertas koran lantaran masih memiliki pori-pori untuk membuat bakteri nata de coco hidup. Baru tujuh hari kemudian bisa dipanen. (widi kamidi / foto:widi)

MEA dan Ancaman Bagi Tenun Gedog Tradisional Tuban 

Memproses kain dengan mesin tenun tradisional. foto:widi

Jauh sebelum bom Bali memutus mata rantai jaringan bisnis aneka craft dari banyak daerah, termasuk Jawa Timur, pasutri Eni Susanti dan Zaenal Abidin sudah memiliki pelanggan Tenun Gedog Tuban yang tak pernah putus.

Kini, pascateror mengerikan itu usai, produk tradisional ini akan berhadapan dengan “teror” dalam bentuk lain yaitu bernama pasar besar. Sebagian orang, atau para akademisi, menyebut pasar bebas itu dengan MEA. Nah, di era MEA bagaimana nasib Tenun Gedog Tradisional Tuban itu. Mampukah bertempur di MEA 2015 esok? Apakah pasutri tersebut tetap mampu menjaring  pelanggan yang juga tak pernah putus?

Di Jawa Timur tak banyak yang menekuni tradisi menenun. Sementara di Tuban, pasangan suami istri (pasutri) Eni Susanti dan Zaenal Abidin, malah satu-satunya yang berjibaku dengan tenun.

Eni dan Zaenal sedikitnya memiliki 60 set mesin tenun tradisonal. Selain yang tradisional dia juga memiliki beberapa set mesin tenun semiotomatis. Mesin-mesin itu digerakkan oleh dynamo-dinamo beraliran listrik. Mesin-mesin itu adalah lungsuran dari pabrik yang katanya dibeli dengan harga cukup murah.

Meski mesin-mesin semiotomatis itu sudah bekerja, sudah mampu menghasilkan produk yang bagus, toh selera pasar tetap berharap yang berbeda. Para pelanggan setia, para kolektor, tetap lebih mencari kain hasil tenunan dari mesin-mesin tradisional yang memang cenderung lebih tidak rapi ketimbang yang dihasilkan oleh mesin.

Eni Susanti juga menyebutkan, edisi pasar bebas (MEA) yang mungkin banyak ditakutkan orang itu, tak berlaku baginya. Bahasa kerennya tak berimbas. Sebab, dia dan suaminya konsisten dengan TGT yang punya massa tersendiri dipasaran. TGT adalah kepanjangan dari Tenun Gedog Tradisonal.

Hingga sejauh ini, pelanggan lama atau minimal yang sudah sering bekerja sama untuk penjualan hasil produk lebih mengenalnya dengan nama Zaenal Gedog Tuban. Produk tenun usahanya yang paling pupoler dipasaran adalah sarung tenun jenis goyor. Untuk kelas yang premium ada juga sarung tenun dari bahan sutra.

Sedangkan yang paling banyak diproduksi adalah taplak meja, syal, dan selendang. Taplak meja hampir keseluruhan produksi kesedot untuk market di Bali. Biasanya untuk keperluan upacara keagamaan dan adat bagi masyarakat Bali.

Sementara untuk syal dan selendang larinya juga ke Bali. Turis-turis yang berdatangan di Bali begitu menyukai hal-hal yang berbau tradisi dengan bahan yang cenderung natural dan alami.

Produk lain yang paling favorit dan banyak dicari dengan market yang menyebar adalah batik tulis dengan bahan tenun. Produk premiumnya adalah batik tulis dengan bahan tenun sutra.

Untuk jenis yang terakhir ini, produk batik tulis, harganya malahan tidak ada yang murah. Semuanya mahal. Utamanya jika mengunakan pewarna alami.

Mengapa harganya menjadi tinggi nan mahal? Selain bahan produksinya sudah mahal, prosesnya pun juga rumit. Harus dikerjakan SDM yang ahli pula. Membatik dengan bahan kain tenun tradisional memiliki kesulitan dua kali lipat dibanding dengan membatik di atas kain biasa.

Di ajang bergengsi seperti Ina Craft, adalah momen penting yang wajib dia ikuti. Momen seperti ini adalah ajang mengenalkan produk. “Jika momen-memen seperti Ina Craft tersebut sering digelar, kita yakin pasar bebas itu tak begitu serius mengancam craft buatan Indonesia,”cetusnya.

Di Ina Craft, kata Eni, batik tenun gedog Tuban selalu dinantikan para penggemar, koletor, juga para desainer. Ada aktivitas unik yang dilakukannya setiap momen Ina Craft itu tiba. Ia selalu diminta mengabari banyak kolega dan pelanggan. Bukan hanya yang di dalam negeri namun hingga mancanegara.

Kalau sudah dikabari, mereka pun berbondong datang untuk memilih produk atau koleksi yang baru. Datangnya malah berebut dulu-duluan. “Malahan ada yang memesan begini, ruang pamernya jangan dibuka duluan ya sebelum saya datang. Dan memang, biasanya, hari pertama dibuka, koleksi yang dibawa pameran langsung habis,” cerita Eni.

Sukses Tenun Gedog Zaenal meraih pasar di Bali sejak tahun 90-an, menurut Eni, awalnya juga coba-coba. Lantaran punya adik di Bali, maka ia dan suaminya titip di artshop-artshop yang banyak bertebaran di Bali. Konon, pasar untuk model bahan tenun masih terbuka lebar. Teman-teman Eni sering mengeluhkan kewalahan melayani order-order.

Eni Susanti, pemilik sekaligus perajin Tenun Gedog Tradisional Tuban. foto:widi

Coba-mencoba yang dilakukannya saat itu ternyata mujarab. Pasar yang diceritakan itu ternyata benar adanya. Maka sejak saat itu ia mulai rutin melakukan pengiriman ke Bali. Seiring dengan tingginya volume pemesanan maka pesanan-pesanan yang ada tersebut mulai diproduksi sendiri. Mesin-mesin tenun didatangkan, SDM-SDM mulai direkrut. Hingga kini sedikitnya 60 karyawan mengoperasikan beragam mesin tersebut. Mulai dari tenun hingga pintal benang dan membatik.

Setelah peristiwa bom Bali I dan II, pasar memang menyusut. Pelanggan-pelanggan dari Jepang putus kontak. Begitu juga dengan banyak turis dari negara lain. Seiring dengan itu karyawan yang semula di atas 100 orang juga menyusut.

“Kini tinggal 60an orang saja. Mereka yang prothol dari tempat kita sekarang ikut pabrik rokok yang mulai bermunculan di Tuban,” kata Eni yang membuka showroom di Jalan Raya Kerek Margorejo, Tuban, Jawa Timur.

Meski ditinggalkan banyak pelanggan turis, Eni yang hingga sekarang masih aktif mengajar di SMK Negeri 2 Tuban itu mengaku tidak khawatir. Pasalnya, pasar di Bali baginya tidak melulu hanya turis. Produk taplak tenun begitu melekat di masyarakat Bali dan sangat biasa digunakan untuk keperluan upacara keagamaan dan adat disana. (widi kamidi)

MEA dan Ancaman Bagi Tenun Gedog Tradisional Tuban 

Memproses kain dengan mesin tenun tradisional. foto:widi

Jauh sebelum bom Bali memutus mata rantai jaringan bisnis aneka craft dari banyak daerah, termasuk Jawa Timur, pasutri Eni Susanti dan Zaenal Abidin sudah memiliki pelanggan Tenun Gedog Tuban yang tak pernah putus.

Kini, pascateror mengerikan itu usai, produk tradisional ini akan berhadapan dengan “teror” dalam bentuk lain yaitu bernama pasar besar. Sebagian orang, atau para akademisi, menyebut pasar bebas itu dengan MEA. Nah, di era MEA bagaimana nasib Tenun Gedog Tradisional Tuban itu. Mampukah bertempur di MEA 2015 esok? Apakah pasutri tersebut tetap mampu menjaring  pelanggan yang juga tak pernah putus?

Di Jawa Timur tak banyak yang menekuni tradisi menenun. Sementara di Tuban, pasangan suami istri (pasutri) Eni Susanti dan Zaenal Abidin, malah satu-satunya yang berjibaku dengan tenun.

Eni dan Zaenal sedikitnya memiliki 60 set mesin tenun tradisonal. Selain yang tradisional dia juga memiliki beberapa set mesin tenun semiotomatis. Mesin-mesin itu digerakkan oleh dynamo-dinamo beraliran listrik. Mesin-mesin itu adalah lungsuran dari pabrik yang katanya dibeli dengan harga cukup murah.

Meski mesin-mesin semiotomatis itu sudah bekerja, sudah mampu menghasilkan produk yang bagus, toh selera pasar tetap berharap yang berbeda. Para pelanggan setia, para kolektor, tetap lebih mencari kain hasil tenunan dari mesin-mesin tradisional yang memang cenderung lebih tidak rapi ketimbang yang dihasilkan oleh mesin.

Eni Susanti juga menyebutkan, edisi pasar bebas (MEA) yang mungkin banyak ditakutkan orang itu, tak berlaku baginya. Bahasa kerennya tak berimbas. Sebab, dia dan suaminya konsisten dengan TGT yang punya massa tersendiri dipasaran. TGT adalah kepanjangan dari Tenun Gedog Tradisonal.

Hingga sejauh ini, pelanggan lama atau minimal yang sudah sering bekerja sama untuk penjualan hasil produk lebih mengenalnya dengan nama Zaenal Gedog Tuban. Produk tenun usahanya yang paling pupoler dipasaran adalah sarung tenun jenis goyor. Untuk kelas yang premium ada juga sarung tenun dari bahan sutra.

Sedangkan yang paling banyak diproduksi adalah taplak meja, syal, dan selendang. Taplak meja hampir keseluruhan produksi kesedot untuk market di Bali. Biasanya untuk keperluan upacara keagamaan dan adat bagi masyarakat Bali.

Sementara untuk syal dan selendang larinya juga ke Bali. Turis-turis yang berdatangan di Bali begitu menyukai hal-hal yang berbau tradisi dengan bahan yang cenderung natural dan alami.

Produk lain yang paling favorit dan banyak dicari dengan market yang menyebar adalah batik tulis dengan bahan tenun. Produk premiumnya adalah batik tulis dengan bahan tenun sutra.

Untuk jenis yang terakhir ini, produk batik tulis, harganya malahan tidak ada yang murah. Semuanya mahal. Utamanya jika mengunakan pewarna alami.

Mengapa harganya menjadi tinggi nan mahal? Selain bahan produksinya sudah mahal, prosesnya pun juga rumit. Harus dikerjakan SDM yang ahli pula. Membatik dengan bahan kain tenun tradisional memiliki kesulitan dua kali lipat dibanding dengan membatik di atas kain biasa.

Di ajang bergengsi seperti Ina Craft, adalah momen penting yang wajib dia ikuti. Momen seperti ini adalah ajang mengenalkan produk. “Jika momen-memen seperti Ina Craft tersebut sering digelar, kita yakin pasar bebas itu tak begitu serius mengancam craft buatan Indonesia,”cetusnya.

Di Ina Craft, kata Eni, batik tenun gedog Tuban selalu dinantikan para penggemar, koletor, juga para desainer. Ada aktivitas unik yang dilakukannya setiap momen Ina Craft itu tiba. Ia selalu diminta mengabari banyak kolega dan pelanggan. Bukan hanya yang di dalam negeri namun hingga mancanegara.

Kalau sudah dikabari, mereka pun berbondong datang untuk memilih produk atau koleksi yang baru. Datangnya malah berebut dulu-duluan. “Malahan ada yang memesan begini, ruang pamernya jangan dibuka duluan ya sebelum saya datang. Dan memang, biasanya, hari pertama dibuka, koleksi yang dibawa pameran langsung habis,” cerita Eni.

Sukses Tenun Gedog Zaenal meraih pasar di Bali sejak tahun 90-an, menurut Eni, awalnya juga coba-coba. Lantaran punya adik di Bali, maka ia dan suaminya titip di artshop-artshop yang banyak bertebaran di Bali. Konon, pasar untuk model bahan tenun masih terbuka lebar. Teman-teman Eni sering mengeluhkan kewalahan melayani order-order.

Eni Susanti, pemilik sekaligus perajin Tenun Gedog Tradisional Tuban. foto:widi

Coba-mencoba yang dilakukannya saat itu ternyata mujarab. Pasar yang diceritakan itu ternyata benar adanya. Maka sejak saat itu ia mulai rutin melakukan pengiriman ke Bali. Seiring dengan tingginya volume pemesanan maka pesanan-pesanan yang ada tersebut mulai diproduksi sendiri. Mesin-mesin tenun didatangkan, SDM-SDM mulai direkrut. Hingga kini sedikitnya 60 karyawan mengoperasikan beragam mesin tersebut. Mulai dari tenun hingga pintal benang dan membatik.

Setelah peristiwa bom Bali I dan II, pasar memang menyusut. Pelanggan-pelanggan dari Jepang putus kontak. Begitu juga dengan banyak turis dari negara lain. Seiring dengan itu karyawan yang semula di atas 100 orang juga menyusut.

“Kini tinggal 60an orang saja. Mereka yang prothol dari tempat kita sekarang ikut pabrik rokok yang mulai bermunculan di Tuban,” kata Eni yang membuka showroom di Jalan Raya Kerek Margorejo, Tuban, Jawa Timur.

Meski ditinggalkan banyak pelanggan turis, Eni yang hingga sekarang masih aktif mengajar di SMK Negeri 2 Tuban itu mengaku tidak khawatir. Pasalnya, pasar di Bali baginya tidak melulu hanya turis. Produk taplak tenun begitu melekat di masyarakat Bali dan sangat biasa digunakan untuk keperluan upacara keagamaan dan adat disana. (widi kamidi)


 

Petani Gresik Terpaksa Babat Jagung Kering

imageBerita Metrotvnews.com, Gresik: Petani di Desa Pantenan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jatim, terpaksa membabat tanaman jagung yang hampir mati karena kekeringan, Jumat (27/9) siang. Selengkapnya »



 
 

PERIHAL | DAFTAR TANYA JAWAB | BUKU TAMU | KONTAK KAMI
© 2013 by Indonesian Investment Coordinating Board. All rights reserved