ENGLISH     BAHASA INDONESIA
 
 
 
 
 

Peluang Investasi

 

PROFIL DAERAH JAWA TIMUR

 

KOMODITI UNGGULAN DAERAH

 

KABUPATEN

 

LINK TERKAIT

 

KONTAK DI DAERAH

 
 
 
LINK TERKAIT

     

 
KONTAK

      Direktorat Pengembangan Potensi Daerah BKPM
      Jl. Gatot Subroto 44
      Jakarta Selatan
      DKI Jakarta
      Indonesia, 12190
      Tel: +62 21 5255284


 
 
IN COLLABORATION WITH PROVINCES OF INDONESIA :
 

Sat, 20 Dec 2014

Profil Daerah Jawa Timur
 

Logo Daerah Jawa Timur Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi Di Pulau Jawa yang terletak 111,0o - 114,4o Bujur Timur dan 7,12o - 8,48o Lintang Selatan yang berbatasan dengan :

- Sebelah Barat berbatasan dengan Jawa Tengah,
- Sebelah Timur dengan Pulau Bali,
- Sebelah Utara dengan Pulau Kalimantan / Provinsi Kalimantan Selatan,
- Sebelah Selatan dengan samudra indonesia.

Secara umum wilayah Jawa Timur ... Selengkapnya »



Peta Potensi
 

Klik bagian Legenda di bawah dan pilih komoditi yang akan ditampilkan.

Legenda


  


Feed News    Berita Terbaru
 

Ribuan Izin Importir Dicabut 

Kripik Kasava Mojokerto kualitas ekspor yang harus dilindungi dengan kebijakan pencabutan izin impor. foto:widi kamidi

290 Merupakan Impor Produk Pangan

Gebarakan cukup melegakan dilakukan Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan. Sedikitnya 2.166 izin impor dicabut dari total izin impor sebanyak 5.017 buah.

Gebrakan ini dilakukan menyusul pencabutan izin 24 importir telepon seluler, komputer genggam, dan komputer tablet yang sudah dilakukan sebelumnya.

“Kami tidak main-main dalam menegakkan hukum di sektor perdagangan. Setiap pelanggaran akan dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pencabutan importir terdaftar (IT) ini juga merupakan upaya Pemerintah dalam menciptkan tata kelola impor nasional secara tertib guna menciptakan ruang yang luas bagi pembangunan nasional,” tegas Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel.

Diantara 2.166 izin impor yang dicabut terdapat izin impor makanan dan minuman. Obat tradisional dan suplemen makanan. Kosmetik dan perbekalan kesehatan rumah tangga. Elektronika dan pakaian jadi. Alas kaki dan dan mainan anak-anak.

Total izin yang dicabut 43,17 persen dari 5.017 importir terdaftar. Pencabutan izin impor ini tegas dilakukan karena mereka lalai menjalankan kewajibannya dalam menyampaikan laporan secara tertulis atas realisasi pelaksanaan impor.

Rincian izin impor yang dicabut sebagai berikut: 836 IT elektronika, 321 IT pakaian jadi, 290 IT makanan dan minuman, 256 IT kosmetik dan perbekalan kesehatan rumah tangga, 179 IT mainan anak, 133 IT obat tradisional dan suplemen makanan, serta 151 IT alas kaki.

Dasar pencabutan izin IT produk tertentu tersebut adalah Pasal 14 Peraturan Menteri No.83/M-DAG/PER/12/2012 sebagaimana telah diubah beberapa kali dengan Peraturan Menteri Perdagangan No.73/M-DAG/PER/10/2014 tentang Ketentuan Impor Produk Tertentu.

Dalam peraturan tersebut tertulis, perusahaan yang telah mendapatkan penetapan sebagai Importir Terdaftar (IT) Produk Tertentu wajib menyampaikan laporan secara tertulis atas pelaksanaan impor produk tertentu (terealisasi/tidak terealisasi) melalui http://inatrade.kemendag.go.id setiap 3 (tiga) bulan.

Paling lambat menyampaikan laporan adalah tanggal 15 triwulan berikutnya kepada koordinator dan pelaksana Unit Pelayanan Perdagangan (UPP) dan Direktur Impor. (widi kamidi)

Impian Indonesia Jadi Pengekspor Sapi Itu pun Datang 

Model berpose di dekat sapi-sapi yang diharapkan jadi indukan. foto:istimewa

Dari Kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB), Singosari, Kabupaten Malang

Ada gembira yang menyeruak dari kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB), Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (7/12).

Menurut Wakil Presiden, dari Malang Jawa Timur ini, dengan infrastruktur seperti yang dimiliki BBIB, maka Indonesia akan mampu menjadi negara pengekspor sapi pada dua atau empat tahun mendatang.

Artinya, selain swasembada daging sapi, Indonesia juga mampu melakukan ekspor sapi. Suatu hal yang selama ini sangat tidak mungkin dilakukan negeri ini ketika Indonesia sudah sangat tergantung dengan impor sapi dari pertenakan-peternakan di Australia.

Dalam kunjungan tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menko Perekonomian, Sofyan Djalil, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf.

Kalla juga menegaskan, Pemerintah akan menambah populasi sapi sebanyak satu sampai dua juta ekor sapi untuk bisa swasembada. Sebab itu proses penanangan semen beku sapi di laboratorium BBIB Singosari harus diupayakan lebih besar. Pengembangan inseminasi buatan indukan sapi yang berkualitas juga harus dilakukan.

Diketahui, saat ini BBIB Singosari dan Balai Inseminasi Buatan di Jawa Barat memiliki stock semen beku sebanyak 8.205.213 dosis mani beku, cukup untuk inseminasi buatan sebanyak 6.153.910 ekor betina atau 75% dari jumlah dosis semen tersedia.

Oleh karena itu Indonesia dapat memenuhi kebutuhan nasional dan dengan demikian dapat mengurangi angka impor daging sapi. Selain diharapkan mampu meraih cita-cita swasembada daging sapi, BBIB Singosari juga memiliki potensi besar dalam mendukung swasembada pangan. (widi kamidi)

Impian Indonesia Jadi Pengekspor Sapi Itu pun Datang 

Model berpose di dekat sapi-sapi yang diharapkan jadi indukan. foto:istimewa

Dari Kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB), Singosari, Kabupaten Malang

Ada gembira yang menyeruak dari kunjungan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla ke Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB), Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (7/12).

Menurut Wakil Presiden, dari Malang Jawa Timur ini, dengan infrastruktur seperti yang dimiliki BBIB, maka Indonesia akan mampu menjadi negara pengekspor sapi pada dua atau empat tahun mendatang.

Artinya, selain swasembada daging sapi, Indonesia juga mampu melakukan ekspor sapi. Suatu hal yang selama ini sangat tidak mungkin dilakukan negeri ini ketika Indonesia sudah sangat tergantung dengan impor sapi dari pertenakan-peternakan di Australia.

Dalam kunjungan tersebut Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menko Perekonomian, Sofyan Djalil, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dan Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf.

Kalla juga menegaskan, Pemerintah akan menambah populasi sapi sebanyak satu sampai dua juta ekor sapi untuk bisa swasembada. Sebab itu proses penanangan semen beku sapi di laboratorium BBIB Singosari harus diupayakan lebih besar. Pengembangan inseminasi buatan indukan sapi yang berkualitas juga harus dilakukan.

Diketahui, saat ini BBIB Singosari dan Balai Inseminasi Buatan di Jawa Barat memiliki stock semen beku sebanyak 8.205.213 dosis mani beku, cukup untuk inseminasi buatan sebanyak 6.153.910 ekor betina atau 75% dari jumlah dosis semen tersedia.

Oleh karena itu Indonesia dapat memenuhi kebutuhan nasional dan dengan demikian dapat mengurangi angka impor daging sapi. Selain diharapkan mampu meraih cita-cita swasembada daging sapi, BBIB Singosari juga memiliki potensi besar dalam mendukung swasembada pangan. (widi kamidi)

Perlunya Meratifikasi Sektor Prioritas MEA 

Kapitalisasi batik sangat berpengaruh saat MEA diberlakukan. foto:widikamidi

Tinggal hitungan bulan. Apa itu? Liberalisasi pasar ASEAN. Meski tinggal hitungan bulan, namun banyak pelaku usaha masih meraba-raba konsep dan konsekuensi dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) itu.

Sejumlah pelaku usaha menunjukkan mayoritas belum mengerti soal MEA.  Sosialisasi oleh pemerintah sudah dilakukan di berbagai daerah, dari kota hingga kabupaten. Namun MEA tetap membuat gagap. Kalau hanya sekadar mengerti saja tentu itu belumlah cukup.

Salah satu faktor rendahnya kesiapan Indonesia lantaran tidak ada ancang-ancang komprehensif dan taktis untuk mengambil benefit terbesar dari liberalisasi kawasan tersebut.

Ini berbeda dengan persiapan di negeri jiran. Thailand umpamanya, telah menyiapkan 8 strategi khusus untuk menghadapi MEA sejak 2012. Salah satunya, ekspansi sektor peternakan dengan membidik investasi di Myanmar.

Maka, dalam hal ini, pemerintah tidak cukup cuma sosialisasi untuk menjelaskan apa itu MEA. Harus segera bersama pelaku usaha menyiapkan strategi dan rencana kerja detail.

Ada pembagian tugas dan target waktu jelas untuk meningkatkan daya saing industri, memenangi pasar domestik dan pasar ASEAN.

Sebenarnya terdapat ada empat hal penting yang perlu diantisipasi. Pertama, implementasi MEA berpotensi menjadikan Indonesia sekadar pemasok energi dan bahan baku bagi industrialisasi di ASEAN. Akibatnya, defisit neraca perdagangan barang Indonesia dengan ASEAN bisa membuncit.

Tanpa pengembangan industri transportasi nasional, realisasi MEA pun berisiko memperlebar defisit neraca jasa seiring intensnya perdagangan. Lebih lanjut, MEA akan membebaskan aliran tenaga kerja yang bisa memicu banjir tenaga kerja asing di Indonesia.

Dari data Bank Indonesia, remitansi tenaga asing naik 16,5% per tahun, lebih tinggi daripada remitansi TKI di luar negeri yang 4,2%. Ini berpotensi menambah beban neraca transaksi berjalan dan masalah pengangguran.

MEA pun bakal menarik investasi masuk ke Indonesia. Namun, pemerintah harus tanggap untuk mengarahkannya ke pembangunan industri hulu. Pemerintah Jokowi perlu membuat kebijakan agar nantinya tak gagap menghadapi liberalisasi pasar ini.

Saat ini ada salah persepsi yang terjadi.  Pemerintah memang sudah mengatakan kesiapan sebesar 80 persen. Sementara itu, pebisnis bilang belum siap. Kalau mengukur kesiapan pemerintah, apakah sudah meratifikasi kesepakatan dengan negara-negara lain, seperti pariwisata, kesehatan, dan investasi?

Pengusaha melihat, apa strategi yang sudah pemerintah lakukan dan apa sektor yang sudah dimenangkan. Perbedaan cara pandang ini merupakan suatu kesenjangan yang luar biasa.

Pemerintah hanya melihat peluang pasar 600 juta orang kalau MEA diberlakukan. Padahal, itu hanya potential market. Jangan-jangan pasar kita yang 240 juta orang menjadi hanya 150 juta karena diisi oleh negara-negara Asean.

Sementara di kalangan pengusaha timbul pesimisme karena mereka tidak tahu strategi dan tidak mengerti kesepakatan mana yang telah diratifikasi pemerintah dan sektor mana yang diprioritaskan masuk MEA.

Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia masih kelihatan gagapnya. Malaysia sudah jelas sektor mana yang diunggulkan, yakni pariwisata dan kesehatan. Industri manufaktur khususnya makanan ke Indonesia, Malaysia sudah luar biasa ekspansinya.

Thailand dengan keunggulannya pertanian dan manufaktur berbasis pertanian. Pemerintahnya bersama swasta melakukan investasi ke Myanmar, nanti pasarnya adalah Indonesia.

Indonesia selama ini dikenal sebagai  supplier (pemasok) barang-barang mentah. Pertumbuhan ekspor kita ke ASEAN sebesar 14,7 persen per tahun. Tapi pertumbuhan impornya dari ASEAN sebesar 25,3 persen per tahun.

Ini sangat mungkin Indonesia dijadikan basis produksi karena banyak perusahaan MNC (Multinational Company) masuk Indonesia. Sebanyak 40 persen tenaga kerja ASEAN berada di Indonesia. Sumber daya Indonesia untuk batu bara masih nomor satu, karet masih nomor satu, dan CPO (crude palm oil) masih nomor satu.

Sayangnya, kita diam saja investasi dan perdagangan akan masuk Indonesia. Kalau nanti Indonesia masuk MEA, memang kue ekonomi Indonesia akan membesar.  Namun, neraca transaksi berjalan kita defisit sekarang. Kalau perdagangan ini makin besar, defisit kita semakin melebar.

Dampak diberlakukannya MEA ini sudah terasa di sektor tenaga kerja. Banyak perusahaan asing sudah mencuri start dengan mendatangkan pekerja asal negara lain.

Investor dari Taiwan yang berinvestasi di Bali sudah menggunakan tenaga kerja dari Vietnam. Tiongkok yang berinvestasi di infrastruktur di Indonesia, mereka membawa tenaga kerja sendiri.

Di Industri tekstil, banyak tenaga kerja untuk level operator ke bawah dari India dan Pakistan. Karena mereka nggak rewel, tidak peduli dengan outsourcing (alih-daya), THR (Tunjangan Hari Raya), dan dapat bekerja sampai malam.

Untuk menghadapi MEA, pemerintah harus mereformasi struktur ekonomi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara produsen. Selama ini, bahan baku indutri masih bergantung impor sampai 70 persen dan konsumsi juga masih bergantung impor.

Kalau bicara tekstil, impor Indonesia lebih besar dibandingkan ekspor. Kita belum optimalkan industri batik. Padahal, kita sudah dapatkan sertifikasi batik dari UNESCO (PBB) bahwa batik adalah milik Indonesia. Sudahkah kita mengkapitalisasi batik? Itu tidak dikembangkan secara serius.

Untuk melindungi produk,  pemerintah perlu dua strategi tariff barrier dan non-tariff barrier. Tariff barrier di Indonesiaa sudah paling rendah, tinggal 4 persen. Tarif produk industri di Tiongkok masih diberikan rata-rata 11,2 persen. Padahal, kita impor produk industri sampai 70 persen dari Tiongkok.

Kalau Pak Jokowi mengundang investasi, dia harus mempersiapkan supporting industry sehingga mereka tidak mengimpor 70 persen bahan baku. Itu akan menambah nilai tambah di dalam negeri. Kalau tidak, neraca transaksi perdagangan bisa defisit.

Silakan investor masuk, tapi ke sektor hulu, sehingga akan menciptakan industri hilir di dalam negeri. Kalau kita mengundang investor asing di hilir, hulunya tidak bangun, itu akan berbasis impor lagi.

Pemerintah Jokowi harus memilih sektor yang kebergantungan impor tidak besar dan mampu menciptakan tenaga kerja. Harus dicari sektor-sektor yang local content-nya tinggi. (widi kamidi/berbagai sumber)

Terus Meroket, Ekspor Kopi ke China 

Kopi basah usai dipetik. foto:istimewa

Target kenaikkan ekspor nasional hingga 300 persen Kementerian Perdagangan RI segera terpenuhi.

Target ekspor di sektor makanan dan minuman olahan saat ini terdongkrak hingga 9,5 persen, menyusul ekspor kopi tahun lalu sudah menembus angka USD 1,17 miliar.

Sebagai penghasil kopi terbesar ke- 3 di dunia setelah Brazil dan Vietnam, Indonesia memang wajib mendorong ekspornya. Nilai ekspor kopi pada tahun 2013 sudah mencapai USD 1,17 miliar. Semetara nilai ekspor makanan olahan sebesar 9,5  bisa terdongkrak hingga 10,5%.

Pelaku kopi meningkat ekspornya terpantau dari pameran Tea & Coffee China pada pertengahan November lalu yang bertempat di Shanghai New International Expo Centre (SNIEC), Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Harum aroma kopi terbaik Indonesia seperti kopi Luwak, Toraja, Gayo, Jawa, Bali, dan Mandheling memikat penikmat kopi negeri Tirai Bambu itu.

Sebagai pasar potensial bagi produk kopi, permintaan RRT pada kopi impor begitu besar. RRT menempati urutan ke-18 sebagai importir kopi Indonesia. Nilai ekspor kopi ke RRT selama lima tahun terakhir terus tumbuh dengan tren sebesar 82,6% karena gaya hidup minum kopi menggeser konsumsi teh di RRT.

Pameran Tea & Coffee China merupakan bagian dari Pameran Food and Hospitality China (FHC) 2014, salah satu pameran produk makanan di RRT yang diikuti oleh 1.820 ekshibitor dari 70 negara dan dikunjungi oleh 26.188 pengunjung. Mengusung tema “Remarkable Indonesia”, kopi Indonesia tampil dalam dua paviliun Kemendag seluas 90 m2 dan Kementerian Perindustrian seluas 40 m2.


 

Petani Gresik Terpaksa Babat Jagung Kering

imageBerita Metrotvnews.com, Gresik: Petani di Desa Pantenan, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jatim, terpaksa membabat tanaman jagung yang hampir mati karena kekeringan, Jumat (27/9) siang. Selengkapnya »



 
 

PERIHAL | DAFTAR TANYA JAWAB | BUKU TAMU | KONTAK KAMI
© 2013 by Indonesian Investment Coordinating Board. All rights reserved